Langsung ke konten utama

Mengintip Pengolahan Teh Tambi, Minuman Berkualitas dengan Segudang Manfaat

PEROLEHAN. Teh merupakan salah satu komoditas penting yang ada di Indonesia. Banyaknya daratan tinggi yang tersebar di Indonesia dan kondisi tanah yang subur, menjadikannya tempat yang tepat untuk menanam dan membudidayakan teh. Salah satu kota yang memiliki banyak perkebunan teh adalah kota Wonosobo. Teh asli Wonosobo itu sendiri terkenal dengan nama Teh Tambi. Teh tambi merupakan jenis teh hitam yang dibuat dari pucuk daun teh yang berkualitas unggul.

PT. Perkebunan Tambi merupakan salah satu perusahaan pengolahan teh tambi yang cukup terkenal dan berkualitas di Wonosobo. PT Perkebunan Tambi sendiri selain memproduksi teh lokal khas Wonosobo, mereka juga mengelola kawasan wisata alam dan perkebunan teh. Jadi, selain sebagai tempat penghasil teh yang berkualitas perkebunan teh tambi juga dimanfaatkan sebagai tempat wisata.
Sangat menarik jika kita bahas langsung tentang pengolahan teh mulai dari proses pemetikan hingga menjadi secangkir teh yang siap diminum. Daun teh yang siap untuk untuk dipetik adalah tiga pucuk daun dengan kuncup tunas aktif berbentuk runcing yang dikenal dengan nama, pucuk peko. “Bagian teh yang dipanen itu tiga daun teh paling atas mba, biasanya si disebut pucuk peko. Soalnya bagian itu memang bagian paling bagus untuk dijadikan teh, supaya rasanya enak gak pait mba” Ucap Ibu Darliyah, buruh pemetik teh tambi. Dalam pemetikan daun teh pun harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan menggunakan gunting khusus.

Setelah proses pemetikan dan proses seleksi daun terbaik, daun teh pilihan akan masuk pada proses pelayuan. Proses pelayuan dilakukan di dalam ruangan khusus dan akan didiamkan selama 12 jam untuk proses oksidasi. Oksidasi diperlukan dalam pengolahan teh tambi karena bertujuan untuk mengubah daun teh yang semula berwarna hijau menjadi warna hitam kecoklatan.


Ketika daun teh sudah pada tingkat kelayuan yang pas, daun teh akan masuk pada proses penggilingan. Teh dimasukan pada mesin penggiling berbentuk pipa khusus dengan pisau tajam di bawahnya. Mesin penggiling berfungsi untuk memperkecil ukuran daun teh dan memfilter ukuran irisan teh dari ukuran yang terbaik hingga residu yang berukuran paling besar. Terakhir, daun teh terbaik masuk pada proses pemanggangan dan akan dipanggang selama kurang lebih 25-30 menit agar mengering dengan sempurna.

Sebelum dikemas, daun teh kering akan dipisah berdasarkan jenisnya. “Penjenisan ini dilakukan berdasarkan ukuran teh, berukuran besar, sedang atau bahkan serbuk. Proses penjenisan ini tentu memakai mesin yang langsung memisahkan sesuai ukurannya. Kalo ukurannya besar dijadikan teh seduh, sedangkan yang serbuk dijadikan teh celup seperti itu mba.” jelas bu Lina, karyawan PT. Perkebunan Tambi.

Teh tambi memiliki warna yang lebih pekat dan memiliki rasa yang lebih khas dibandingkan dengan jenis teh lainnya. Teh tambi yang merupakan teh hitam disebut-sebut memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh karena kandungan antioksidannya yang cukup tinggi. Karena kandungan antioksidannya yang tinggi, teh tambi bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit kanker serta mengobati diabetes.

Tidak hanya dipasarkan di kota Wonosobo dan kota-kota di Indonesia saja. Teh Tambi bahkan telah masuk pasar Internasional, seperti Jepang, Jerman, Rusia, Inggris, Uni Emirat Arab dan masih banyak lagi. Tentu saja hal ini membuat nama Teh Tambi semakin dikenal dan membuatnya menjadi komoditas menjanjikan.






Ditulis Oleh : Arimbi Ayyun Sejati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakpia Bima, Buah Tangan Istimewa Khas Yogyakarta.

PEROLEHAN . Tak lengkap rasanya jika bertandang ke Yogyakarta tanpa membeli buah tangan khas Yogyakarta yaitu bakpia. Bakpia menjadi buah tangan yang banyak digemari oleh wisatawan lokal mapun wisatawan internasional. Ada beragam jenis bakpia yang bisa ditemukan di Daerah Istimewa ini, mulai dari bakpia kering, basah, hingga kukus. Semua tergantung selera masing-masing. Salah satu bakpia basah yang bisa menjadi rekomendasi buah tangan saat Anda bertandang ke Yogyakarta adalah Bakpia Bima. Bakpia Bima merupakan salah satu gerai bakpia dengan harga yang terjangkau di Sleman, Yogyakarta. Gerai bakpia ini menjual beragam varian bakpia dengan kulit krispi dan isian yang lembut. Sulis, pemilik Bakpia Bima menceritakan mulanya ia membuat ide bisnis bakpia ini. Dimana bermula dari keinginan Sulis untuk menambah penghasilan dengan membuka usaha bakpia.  “Saya sebelumnya bekerja di sebuah gerai bakpia kemudian ada keinginan untuk mandiri dan juga mengembangkan usaha, lalu akhirnya tahun 201...

Kue Angka 8, Oleh-Oleh Berbentuk Angka dari Tapanuli Selatan

PEROLEHAN.  Berbicara tentang cemilan khas Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Pasti kita familiar dengan camilan kerupuk gurih berbentuk angka 8 dengan warna kuningnya yang khas. Kerupuk ini biasa dikenal dengan nama Karak Kaliang. Kerupuk ini terkenal dan tersebat di pulau Sumatra. Di Sumatra Utara sendiri, Karak Kaliang disebut ‘Karak Koling’. Bahan utama Karak Kaliang adalah singkong yang diparut dengan bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbu tersebut terdiri dari bawang putih, garam, merica dan air secukupnya. Makanan yang berasal dari Sumatra Barat ini sangat terkenal, sehingga sampai merambah pasar oleh-oleh di Sumatra Utara. Karak Kaliang sendiri memiliki tekstur yang cukup keras dan membutuhkan usaha untuk mengunyahnya, namun tetap memberikan cita rasa gurih yang khas dan memanjakan lidah. Karak Kaliang sudah sering didengar, namun sudah pernah dengar Kue Angka 8 atau Kue 88 dari Sumatra Utara, khususnya Tapanuli Selatan? Tepatnya di Sipirok, kota kecil yang memiliki hawa dingin dan...

Sate Bandeng, Hidangan Bersejarah Dari Sultan Banten

PEROLEHAN. Jika mendengar makanan sate, kebanyakan orang akan berpikir mengenai sate yang terbuat dari daging ayam atau daging kambing. Namun bagaimana jika makanan sate yang disajikan terbuat dari daging ikan bandeng? Menarik, bukan?Sate yang menggunakan daging ikan bandeng ini adalah salah satu makanan daerah khas Provinsi Banten yang dikenal dengan nama sate bandeng. Konon, sate bandeng menjadi salah satu hidangan di Kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin yang dibuat oleh juru masak keraton pada saat itu agar Sultan Maulana Hasanuddin dapat menikmati sajian ikan bandeng tanpa khawatir akan duri-durinya. Hal inilah yang membuat makanan ini memiliki cerita sejarahnya tersendiri di lingkungan masyarakat Banten. Seperti yang dikatakan oleh Bu Etin selaku pembuat dan penjual sate bandeng, “(Sate) bandeng ini kan ada ceritanya, karena sudah ada dari (zaman) dulu, dari waktu masih (zaman) Sultan, waktu (Banten) masih kerajaan. Soalnya (Sultan) suka banget sama ...