Langsung ke konten utama

Cilor Cemilan Khas, Favorit Kaum Hawa

MAS KALIM. Membicarakan makanan yang menjadi primadona di kalangan anak muda tidak akan ada habisnya untuk zaman sekarang ini karena semakin berkembangnya zaman semakin juga bertambah inovasi dari penjual-penjual makanan ini. Inovasi dari para penjual ini biasanya sangat unik dengan menggabungkan beberapa komponen yang bahkan belum terpikirkan sebelumnya oleh orang lain seperti contohnya es kepal milo, lalu ada mie pedas gacoan dengan tingkatan level pedasnya, lalu apakah kita pernah terpikir menikmati aci (pentol tepung tapioka) dengan digoreng bersama telur lalu dicampur dengan berbagai bumbu yang lezat?

Jajanan aci ini menjadi salah satu cemilan khas dari Jawa Barat karena sebagian besar makanan yang berbahan dasar aci berasal dari Provinsi Jawa Barat. Seperti contohnya adalah cilok (aci dicolok) yang berbentuk seperti pentol bakso namun terbuat dari tepung tapioka, cireng (aci goreng) yang berupa adonan yang berisi isian beraneka macam seperti ayam, keju, abon, dan sebagainya, lalu ada cilung yang berupa adonan tepung kanji dan tapioka dipanggang diatas pan panas lalu diberi telur dan digulung menggunakan stik kayu dan ketika sudah jadi akan berbentuk seperti telur gulung. Lalu bagaimanakah dengan cilor?

Sekilas setelah membaca “aci” yang akan terlintas dalam kepala adalah makanan kenyal bulat seperti cilok, namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Cilor merupakan olahan aci yang berbentuk kubus/kotak kecil-kecil yang tujuan penjual membentuk menjadi lebih kecil agar saat digoreng bersama telur bisa cukup dan pas di alat cetak saat penggorengan berlangsung. Mengapa bentuk cilor ini agak berbeda dari olahan aci yang lain? Menurut penuturan penjual cilor dengan nama Cilor Bagus bentuk dari aci di cilor ini kotak-kotak agar lebih mudah dalam menakar porsi yang dipesan. Jika ada pelanggan yang ingin membeli dengan nominal 5000 rupiah, maka pedagang akan membuat dalam 1 lubang cetakan saat digoreng dengan harga Rp 1000 rupiah per satu cetakan. Cilor bagus ini tersebar di beberapa spot atau titik di Yogyakarta mulai dari Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan, Jl. Sisingamangaraja, daerah Kotabaru, dan di sekitar kampus UGM, UNY, UIN, dan Amikom. Cilor Bagus ini adalah sebuah franchise atau waralaba yang didirikan oleh Mang Bagus yang berasal dari Garut, Jawa Barat yang sudah lama tinggal di Yogyakarta. Untuk dapat memberdayakan dirinya dan komunitas Garut-nya yang merantau di Yogyakarta beliau mendirikan usaha berupa cilor ini dan menjadi sebuah waralaba yang dapat membantu setiap orang yang ingin memulai usaha. Cilor ini memiliki berbagai macam varian rasa, mulai dari rasa balado, keju, pizza, sapi, pedas, BBQ, dan juga jagung bakar. Namun tanpa perlu menambahkan bumbu rasa pada cilor ini saja rasanya sudah gurih karena telur yang menjadi campuran dalam adonan sudah diberikan penyedap rasa kaldu ayam. Selain rasa yang enak dan familiar di lidah para pelanggan, cilor ini mengingatkan dengan jajanan masa kecil, harga dari cilor yang sangat terjangkau menjadikannya sebagai makanan kesukaan banyak orang khususnya kaum hawa.

Menurut penuturan Pak Eko selaku penjual cilor bagus ini beliau mengatakan bahwa, “Mayoritas pembeli dari cilor ini, itu perempuan, untuk rasanya rata-rata rasa yang disukai adalah balado pedas dan juga keju pedas.” Pak eko bilang setiap pembeli perempuan yang beli di tempatnya terkadang mengatakan bahwa dengan memakan cilor rasa pedas seperti ini menjadikan mood mereka menjadi baik lagi dan lebih semangat untuk menjalani hari mereka.



Ditulis Oleh : Rahadian Akhiru Nur Arya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakpia Bima, Buah Tangan Istimewa Khas Yogyakarta.

PEROLEHAN . Tak lengkap rasanya jika bertandang ke Yogyakarta tanpa membeli buah tangan khas Yogyakarta yaitu bakpia. Bakpia menjadi buah tangan yang banyak digemari oleh wisatawan lokal mapun wisatawan internasional. Ada beragam jenis bakpia yang bisa ditemukan di Daerah Istimewa ini, mulai dari bakpia kering, basah, hingga kukus. Semua tergantung selera masing-masing. Salah satu bakpia basah yang bisa menjadi rekomendasi buah tangan saat Anda bertandang ke Yogyakarta adalah Bakpia Bima. Bakpia Bima merupakan salah satu gerai bakpia dengan harga yang terjangkau di Sleman, Yogyakarta. Gerai bakpia ini menjual beragam varian bakpia dengan kulit krispi dan isian yang lembut. Sulis, pemilik Bakpia Bima menceritakan mulanya ia membuat ide bisnis bakpia ini. Dimana bermula dari keinginan Sulis untuk menambah penghasilan dengan membuka usaha bakpia.  “Saya sebelumnya bekerja di sebuah gerai bakpia kemudian ada keinginan untuk mandiri dan juga mengembangkan usaha, lalu akhirnya tahun 201...

Kue Angka 8, Oleh-Oleh Berbentuk Angka dari Tapanuli Selatan

PEROLEHAN.  Berbicara tentang cemilan khas Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Pasti kita familiar dengan camilan kerupuk gurih berbentuk angka 8 dengan warna kuningnya yang khas. Kerupuk ini biasa dikenal dengan nama Karak Kaliang. Kerupuk ini terkenal dan tersebat di pulau Sumatra. Di Sumatra Utara sendiri, Karak Kaliang disebut ‘Karak Koling’. Bahan utama Karak Kaliang adalah singkong yang diparut dengan bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbu tersebut terdiri dari bawang putih, garam, merica dan air secukupnya. Makanan yang berasal dari Sumatra Barat ini sangat terkenal, sehingga sampai merambah pasar oleh-oleh di Sumatra Utara. Karak Kaliang sendiri memiliki tekstur yang cukup keras dan membutuhkan usaha untuk mengunyahnya, namun tetap memberikan cita rasa gurih yang khas dan memanjakan lidah. Karak Kaliang sudah sering didengar, namun sudah pernah dengar Kue Angka 8 atau Kue 88 dari Sumatra Utara, khususnya Tapanuli Selatan? Tepatnya di Sipirok, kota kecil yang memiliki hawa dingin dan...

Sate Bandeng, Hidangan Bersejarah Dari Sultan Banten

PEROLEHAN. Jika mendengar makanan sate, kebanyakan orang akan berpikir mengenai sate yang terbuat dari daging ayam atau daging kambing. Namun bagaimana jika makanan sate yang disajikan terbuat dari daging ikan bandeng? Menarik, bukan?Sate yang menggunakan daging ikan bandeng ini adalah salah satu makanan daerah khas Provinsi Banten yang dikenal dengan nama sate bandeng. Konon, sate bandeng menjadi salah satu hidangan di Kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin yang dibuat oleh juru masak keraton pada saat itu agar Sultan Maulana Hasanuddin dapat menikmati sajian ikan bandeng tanpa khawatir akan duri-durinya. Hal inilah yang membuat makanan ini memiliki cerita sejarahnya tersendiri di lingkungan masyarakat Banten. Seperti yang dikatakan oleh Bu Etin selaku pembuat dan penjual sate bandeng, “(Sate) bandeng ini kan ada ceritanya, karena sudah ada dari (zaman) dulu, dari waktu masih (zaman) Sultan, waktu (Banten) masih kerajaan. Soalnya (Sultan) suka banget sama ...