Langsung ke konten utama

Senyum Hangat Se-Hangat Wedang Ronde Bu Payem


MAS KALIM. Siapa yang masih asing sama wedang ronde? Ya kuliner yang sudah terkenal ini sangat populer dan sangat digemari masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Wedang ronde adalah salah satu kuliner tradisional yang sudah ada sejak jaman penjajahan dulu. Kuliner yang satu ini berbentuk bola bola ketan yang berisi tumbukan kacang dan gula merah di dalamnya sehingga ketika dimakan akan terasa lumer di mulut. Selain itu wedang ronde ini juga merupakan kuliner yang sangat cocok disantap saat cuaca sedang dingin dan musim hujan karena kuah dari wedang ronde ini terbuat dari campuran rempah rempah seperti jahe, cengkeh, kayu manis, dan rempah lainnya yang direbus jadi satu sehingga terdapat sensasi hangat di tengorokan dan perut anda ketika diminum. Namun, tak hanya bola ketan dan kuahnya saja yang disajikan melainkan ada juga kolang kaling, roti, dan juga kacang yang sudah di goreng terlebih dahulu. Jadi selain sangat cocok dinikmati ketika cuaca sedang dingin dan hujan wedang ronde juga cocok untuk menjadi pengganjal rasa lapar karena isian dari wedang ronde yang beraneka ragam. 

Selain enak dan lezat untuk dinikmati wedang ronde juga memiliki segudang manfaat karena bahan bahan berupa rempah yang terkandung di dalam kuahnya. Jahe yang terkandung di dalam kuah wedang ronde dapat meredakan batuk di tenggorokan, mengurangi resiko penyakit jantung, meredakan mual, dan masih banyak lagi manfaatnya. Cengkeh juga bermanfaat sebagai penawar sakit maag, membasmi bakteri berbahaya, penyegar nafas dan banyak manfaat lainnya. Tak heran apabila banyak sekali masyarakat Indonesia yang mengemari kuliner satu ini.

Wedang ronde banyak sekali ditemukan di pinggir jalan atau pasar malam saat event tertentu. Di Yogyakarta ada salah satu wedang ronde yang sangat legendaris yaitu wedang ronde Mbah Payem. Wedang ronde mbah payem ini terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta. Tak jauh dari kawasan pedestarian Malioboro yang menjadi ikonik Kota Yogyakarta. Wedang ronde legendaris ini dijual oleh Mbah Payem sejak tahun 1965. Mbah payem berjualan di tempat tersebut sudah puluhan tahun dan sampai sekarang tetap berjualan di situ dengan menggunakan gerobak khas jaman dahulu. Wedang ronde Mbah Payem ini bisa dibilang sangat unik dan berbeda dengan wedang ronde yang banyak dijual dipinggir jalan lainnya. Wedang ronde Mbah Payem ini masih memiliki cita rasa yang autentik dan sangat khas dari dulu hingga sekarang. Yang membedakan wedang ronde buatan Mbah Payem dengan wedang ronde lainnya terletak pada ronde dan pelengkapnya. Jika biasannya bola ketan tersebut bertekstur lembut seperti kue mochi berbeda dengan ronde mbah payem yang lebih berserat dan tanpa isian kacang dan gula merah. Wedang ronde buatan Mbah Payem juga tidak menggunakan pelengkap roti sehingga yang ada hanya kolang kaling dan juga kacang goreng sebagai pelengkap ronde tersebut. 

Dari banyaknya wedang ronde yang dijajakan, resep buatan Mbah Payem tidak berubah sedikitpun dari tahun 1965. 

“Kalau dari simbah itu dari dulu resepnya begitu, tidak ada yang berubah sedikitpun. Mulai dari takaran gulanya berapa gelas, bahan yang digunakan, sama cara membuatnya dari dulu tidak berubah supaya menjaga rasa keaslian wedang rondenya itu,” tutur Ibu Yani anak dari Mbah Payem yang sekarang meneruskan Mbah Payem berjualan.

Jadi jika mampir ke Jogja tak patut rasanya kalau belum mencoba wedang ronde legendaris buatan Mbah Payem ini. Selain dapat menikmati cita rasa khas wedang ronde jaman dahulu kita juga bisa menikmati udara malam Kota Jogja yang ngangenin.



Ditulis Oleh : Muhammad Bagas Wibowo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bakpia Bima, Buah Tangan Istimewa Khas Yogyakarta.

PEROLEHAN . Tak lengkap rasanya jika bertandang ke Yogyakarta tanpa membeli buah tangan khas Yogyakarta yaitu bakpia. Bakpia menjadi buah tangan yang banyak digemari oleh wisatawan lokal mapun wisatawan internasional. Ada beragam jenis bakpia yang bisa ditemukan di Daerah Istimewa ini, mulai dari bakpia kering, basah, hingga kukus. Semua tergantung selera masing-masing. Salah satu bakpia basah yang bisa menjadi rekomendasi buah tangan saat Anda bertandang ke Yogyakarta adalah Bakpia Bima. Bakpia Bima merupakan salah satu gerai bakpia dengan harga yang terjangkau di Sleman, Yogyakarta. Gerai bakpia ini menjual beragam varian bakpia dengan kulit krispi dan isian yang lembut. Sulis, pemilik Bakpia Bima menceritakan mulanya ia membuat ide bisnis bakpia ini. Dimana bermula dari keinginan Sulis untuk menambah penghasilan dengan membuka usaha bakpia.  “Saya sebelumnya bekerja di sebuah gerai bakpia kemudian ada keinginan untuk mandiri dan juga mengembangkan usaha, lalu akhirnya tahun 201...

Kue Angka 8, Oleh-Oleh Berbentuk Angka dari Tapanuli Selatan

PEROLEHAN.  Berbicara tentang cemilan khas Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Pasti kita familiar dengan camilan kerupuk gurih berbentuk angka 8 dengan warna kuningnya yang khas. Kerupuk ini biasa dikenal dengan nama Karak Kaliang. Kerupuk ini terkenal dan tersebat di pulau Sumatra. Di Sumatra Utara sendiri, Karak Kaliang disebut ‘Karak Koling’. Bahan utama Karak Kaliang adalah singkong yang diparut dengan bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbu tersebut terdiri dari bawang putih, garam, merica dan air secukupnya. Makanan yang berasal dari Sumatra Barat ini sangat terkenal, sehingga sampai merambah pasar oleh-oleh di Sumatra Utara. Karak Kaliang sendiri memiliki tekstur yang cukup keras dan membutuhkan usaha untuk mengunyahnya, namun tetap memberikan cita rasa gurih yang khas dan memanjakan lidah. Karak Kaliang sudah sering didengar, namun sudah pernah dengar Kue Angka 8 atau Kue 88 dari Sumatra Utara, khususnya Tapanuli Selatan? Tepatnya di Sipirok, kota kecil yang memiliki hawa dingin dan...

Sate Bandeng, Hidangan Bersejarah Dari Sultan Banten

PEROLEHAN. Jika mendengar makanan sate, kebanyakan orang akan berpikir mengenai sate yang terbuat dari daging ayam atau daging kambing. Namun bagaimana jika makanan sate yang disajikan terbuat dari daging ikan bandeng? Menarik, bukan?Sate yang menggunakan daging ikan bandeng ini adalah salah satu makanan daerah khas Provinsi Banten yang dikenal dengan nama sate bandeng. Konon, sate bandeng menjadi salah satu hidangan di Kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin yang dibuat oleh juru masak keraton pada saat itu agar Sultan Maulana Hasanuddin dapat menikmati sajian ikan bandeng tanpa khawatir akan duri-durinya. Hal inilah yang membuat makanan ini memiliki cerita sejarahnya tersendiri di lingkungan masyarakat Banten. Seperti yang dikatakan oleh Bu Etin selaku pembuat dan penjual sate bandeng, “(Sate) bandeng ini kan ada ceritanya, karena sudah ada dari (zaman) dulu, dari waktu masih (zaman) Sultan, waktu (Banten) masih kerajaan. Soalnya (Sultan) suka banget sama ...